Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS)

     

     

     

Artikel

Pernyataan Sikap The Wahid Institute atas Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah di Kuningan
The Wahid Institute - Friday, 30 July 2010

Terkait Penyegelan Rumah Ibadah dan Kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah Manislor
Sehubungan dengan memanasnya situasi di Manislor, Kuningan, Jawa Barat,  dimana sejumlah perusuh merobohkan Masjid Ahmadiyah, kami menyatakan sebagai berikut :

(348)
Read more...
MEMPERKUAT CIVIL SOCIETY: MEMPERKUAT BUDAYA KEWARGAAN
AA GN Ari Dwipayana - Friday, 12 February 2010

Pengantar

Dalam  perkembangan praktek demokrasi di berbagai negara menunjukkan bahwa  kehidupan bersama bisa terjaga dengan baik  melalui dua  tiang penyangga:  Tiang penyangga yang pertama, adalah  konstitusi yang modern dan demokratis  Di setiap negara modern sekarang ini, praktis memiliki konstitusi. Jika pengalaman berbagai negara demokratis diekstrasi ke dalam rumusan yang sederhana, maka dengan mudah kita akan menemukan bahwa kehidupan bersama hanya bisa ditegakkan jika tersedia konstitusi yang modern dan demokratis. Apa saja ciri konstitusi yang modern dan demokratis itu?

(5986)
Read more...
Menyoal Sekolah (Belum) Gratis
Mar'atul Ulya - Tuesday, 29 December 2009
'Kebijakan sekolah gratis bergantung pada komitmen kota atau kabupaten. Kalaupun ada pendidikan gratis,(8406)
Read more...
Menguak Kebenaran Baru Peran Perempuan dalam Sejarah
Mar'atul Ulya - Tuesday, 29 December 2009

Banyak yang ’khilaf’ ketika seseorang membuat buku sejarah;

(8697)
Read more...
Mentauladani Kemandirian Khadijah
Mar’atul Uliyah - Tuesday, 29 December 2009

Ketika melihat kenyataan bahwa perempuan sampai sekarang ini masih dililit

(8587)
Read more...

Bulletin terbaru

 
Bulletin A'dalah 41
 
 
Bulletin Coret
 
 

Majlis Muslim Papua: Menebar Benih Perdamaian dan Kerjasama di Tanah Papua

E-mail Print PDF
Papua, yang sebelumnya dikenal dengan nama Irian Jaya, adalah propinsi paling timur di Indonesia. Tanah Cendrawasih itulah gelar yang lekat dengan propinsi tertimur ini. Papua tidak hanya kaya akan sumberdaya alam, tetapi juga kaya akan keragaman budaya, agama dan sumberdaya manusia. Tak kurang dari 250 suku asli Papua mendiami pulau yang kaya akan emas ini. Pemeluk agama di Propinsi tertimur ini cuku beragamam. Katolik, Kristen, Islam ketiganya adalah agama mayoritas di pulau ini. Selain itu beberapa suku juga masih memeluk agama asli, seperti Suku Marind yang masih juga melaksanakan ritual agama adat Marind.
 
Populasi masyarakat Muslim di Papua cukup besar. Kabupaten Merauke, contohnya, masyarakat muslim adalah mayoritas. Tak kurang dari 82.803 pemeluk agama Islam dari keseluruhan 176.578 penduduk Merauke (Data Diambil dari Merauke dalam Angka 2006). Di Kabupaten ini Muslim adalah mayoritas. Di beberapa kabupaten lain, seperti  Raja Empat, Fak-fak, Kaimana jumlah pemeluk agama Islam pun cukup besar. 
Masyarakat muslim Papua, sejak tahun 2007, telah memiliki wadah keorganisasian yang menampung dan mengorganisir kegiatan di tengah masyarakat. Organisasi ini bernama  Majlis Muslim Papua (MMP).
 
Menurut Abdul Awwal Gebze, ketua pengurus Wilayah MMP Merauke,  Keberadaan MMP bertujuan untuk membangun kerjasama dengan elemen masyarakat Papua lainnya guna mewujudkan masyarakat Papua yang cerdas, produktif, berakhlak mulia dan mandiri. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, MMP berupaya membumikan konsep kasih sayang bagi semesta (rahmatan lil’alamin)  dengan menjadikan beberapa prinsip sebagai acuan prinsipil, yaitu: moderat (tawassuth), tegak (I’tidal), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun) dan asas kebersamaan (tawasyur).
 
Sejak berdiri MMP mencoba membangun kerjasama yang cukup erat dengan pelbagai lembaga adat dan organisasi keagamaan lainnya di Papua. Melalui kerjasama tersebut, ummat Islam diarahkan untuk dapat bahu-membahu dengan pemeluk agama lain dan masyarakat adat untuk membangun Papua baru yang damai dan demokratis secara bersama-sama. Perbedaan dinilai sebagai sebuah potensi yang saling melengkapi dan bukan ancaman.
 
Masih menurut  Gebze, masyarakat Muslim, baik pendatang maupun asli, dapat menyatu dan bekerjasama dengan baik bersama masyarakat adat dan pemeluk agama lainnya. Di Merauke, untuk beberapa kegiatan masyarakat, pemeluk agama lain dan masyarakat adat selalu meminta pemuka Agama Islam untuk menjadi pemotong hewan yang digunakan sebagai sajian dalam perayaan adat atau kegiatan masyarakat lainnya. Hal ini dilakukan agar masyarakat Muslim tetap dapat mengikuti dan menikmati sajian dalam kegiatan masyarakat tersebut. Sebagai contoh lainnya, pada pembangunan rumah ibadah, ummat Islam dan Kristen saling membantu. Begitupun mereka saling menghadiri dalam perayaan agama. Sangat indah tentunya.
 
MMP kerap pula mengadakan dialog dan kerjasama dengan pemeluk agama lainnya untuk memecahkan pelbagai persoalan di Papua. Dialog juga dilakukan untuk mengurangi kecurigaan antar kelompok yang dapat terjadi. 
 
Ditemui di sela AMAN School of Peace Studies and Conflict Transformation di Thailand, Gebze menuturkan bahwa jalan dialog merupakan pilihan utama MMP untuk membangun kerjasama dengan elemen masyarakat di Papua. Pilihan dialog telah diputuskan dalam kegiatan penguatan kapsitas pengurus MMP (upgrading) pada tanggal 21-23 Januari 2010. Meski demikian, dialog telah lama dilakukan sebelum kegiatan tersebut.
 
“MMP didirikan untuk membangun Papua atas kerjasama antar semua lemen di Papua. Untuk itu kami kerap mengadakan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kapasitas masyarakat Papua baik muslim maupun non-Muslim. Kami tidak mengadakan pengajian, karena organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah melaksanakan kegiatan tersebut. Kami lebih terfokus pada pengembangan kemampuan (skill) masyarakat, ” tegas Gebze. 
Dalam bidang pendidikan, MMP mencoba memfasilitasi anak-anak asli Papua untuk mengenyam pendidikan di luar Papua, seperti di beberapa pesantren di Jawa. Generasi ini yang nantinya diharapkan mampu meneruskan pembangunan di Papua.
 
“MMP menyadari bahwa mempersiapkan generasi yang akan membangun Papua bukanlah tugas yang sesaat dan semata dimiliki oleh ummat Islam. Karena itu MMP tidak akan berhenti bekerjasama dengan elemen lainnya untuk membangun Papua,”  tutup Gebze. (Irsyadul Ibad).

Last Updated ( Thursday, 11 March 2010 02:15 )  

Jajak Pendapat

Apakah pemerintah telah cukup serius menangani kasus-kasus buruh migran di Indonesia
 
You are here: Home

Komunitas Remaja

 

Sumberdaya

Perpustakaan Yayasan LKiS
 

Wiki Yayasan LKiS

Buku Terbaru