Perkembangan dunia komik di Indonesia tergolong cukup memperihatinkan. Masuknya pelbagai ragam komik, terutama Manga, dari beberapa negara seakan mematikan kreativitas dan corak komik asli Indonesia. Era tahun 1980-an sampai pertegahan 1990-an yang disebut-sebut sebagai masa keemasan komik Indonesia seakan berakhir dengan masuknya komik-komik seperti Doraemon, Kung Fu Boy, Dragon Ball dari Jepang, serta komik bercorak lain yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan hiburan dunia, seperti Batman, Superman dan Spiderman. Komikus dan karya-karya komik Indonesia, seperti Tatang, S., mengilang setelah era tersebut.Perkembangan selanjutnya komik cenderung hanya dijadikan sebagai alat hiburan semata. Isi komik yang mayoritas berkembang semata mengedepankan aspek hiburan tanpa menyelipkan pendidikan sosial kepada khalayak luas. Komik-komik bercorak manga yang berkembang luas pun umumnya lebih mengedepankan imajinasi yang tidak memiliki pijakan dalam kultur Indonesia.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) menggelar workshop komik strip bagi kalangan remaja (20/06/2010). Kegiatan yang bertempat di Pendopo Yayasan LKiS tersebut diisi dengan beberapa materi dasar komik, seperti tekstur, pembangunan ruang dalam gambar dan pemberian motivasi pembuatan komik untuk pendidikan sosial. Bersama komikus Bambang Shakuntala, 15 orang peserta mencoba mempelajari teknik-teknik dasar pembuatan komik strip.
Workshop komik strip ditutup dengan Praktek pembuatan komik strip yang disipkan disisipkan di tengah workshop. Kegiatan sehari ini cukup mendapatkan antusiasme dari peserta yang kebanyakan adalah siswa sekolah menengah umum (SMU) dari Yogyakarta dan sekitarnya. Ragam karya yang dihasilkan oleh peserta dievalusia bersama untuk memperoleh masukan dari peserta dan fasilitator.
Terkait Penyegelan Rumah Ibadah dan Kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah Manislor





Berita 


